Tuesday, 5 January 2016

ALAH BISA TEGAL BIASA. Relevankah dalam pentarbiyahan?

Bismillah wassolatuwassalamu ala Rasulillah. 

Alah bisa tegal biasa - peribahasa yang baik untuk tadrib pentarbiyahan, NAMUN tidak semestinya sesuai untuk semua keadaan. Kenapa? Mari kita renungkan... 

Masa kami adik-beradik masih kecil, mak selalu bercakap dengan nada yang tinggi, atau bahasa pasarnya...garang! Setelah masuk ke alam remaja, mak masih tegas, namun lebih banyak perbincangan dan hujahan kenapa mak memarahi kami. Kini, tiada lagi “tengkingan”, marah, atau garang. Mak dan kami kini telah menjadi teman dan rakan. dan mak selalu ulang, “Mak saja nak latih anak-anak mak dengan kasar supaya nanti bila dapat suami panas baran tak lah tersiksa sangat sebab dah biasa.” - Alah bisa tegal biasa...nampaknya mak berniat melatih kami, mak memang berniat baik... 

Tetapi hingga kini, kami tetap kami... yang “berjiwa lembut”. Kami masih sedih kalau dimarahi, masih terasa kalau dikasari, masih dan terus masih dengan jiwa lembut kami. Saya sendiri, kalau suami bercakap dengan intonasi yang sedikit tinggi pun, sudah rasa nak menangis dan hilang kegembiraan satu hari, jadi... DI MANA SAHIHNYA “Alah bisa tegal biasa” itu? 

Pada saya, untuk mengubah sikap, barangkali peribahasa ini releven. Sikap anak yang malas solat, dipaksa hari demi hari akan menjadi rajin akhirnya. Sikap anak yang suka bangun lewat, dipaksa bangun awal hari demi hai akan terbiasa juga dia bangun awal kelak. Namun, bagi sifat yang ada di dalam jiwa, ia adalah fitrah yag sukar diubah. Jiwa yang lembut kalau dilatih menjadi kasar akan tetap lembut, dan jiwa yang kasar kalau dilatih menjadi lembut akan tetap kasar. 

Justeru, tarbiyahlah anak BUKAN DENGAN CARA MELAWAN FITRAH MEREKA, sebaliknya didiklah mereka “bagaimana untuk menangai kelemahan sifat mereka itu.” 

Kalau anak itu kasar jiwanya, tarbiyahlah mereka agar menjadi orang yang selalu merendah diri dan selalu meminta maaf, agar setiap kali mereka terlanjur mengasari dan menyakiti orang, mereka akan segera rasa berkewajipan untuk meminta maaf, dan jadikan jiwa yag kasar itu diiringi hati yang berani untuk berjuang umpama Saiyidina Umar dan Saiyidina Hamzah! Kalau anak itu lembut jiwanya, tarbiyahlah mereka menjadi orang yang sabar dan tabah, agar setiap kali mereka tersentuh atau terasa, sedih atau kecewa, hatinya tetap kuat, sabar dan redha dengan setiap ujian Tuhan! 

Wallahu yatawalla bissarair.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد الحبيب المحبوب وعلى آله وصحبه وسلم

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis