Tuesday, 5 July 2011

ANXIETY. PADA HARI ITU

Gambar hiasan...
HARI ITU antara hari-hari jadam dalam hidupku. Seteruk manapun seorang wanita, hatta sejahat manapun dia, perasaan yang sangat mengguris hati apabila dianggap perempuan murahan, dan perempuan yang tiada maruah. Kalau diungkap perkataan itu di hadapan seorang pelacur sekalipun pasti dia akan tersinggung, apakah aku berhati batu hingga langsung tak berasa apa-apa? Aku malaikatkah yang tak punya perasaan? Sedang bidadari di syurga saja punya perasaan, inikan pula aku hanya wanita lemah yang berada di atas bumi penuh pancaroba. Tapi, adakah siapa yang peduli....

....mereka takut ditertawakan oleh orang sekeliling, takut dihina dan diperlekeh, takut diumpat atau dikata belakang, apalagi kalau dicaci atau maki hamun secara "berhadapan". Mereka juga sangat takut melakukan kesalahan atau kesilapan...

Tapi, itulah yang aku tempuhi pada hari itu. Aku bagai berada dalam kandang pesalah, yang hanya mampu berdiri kaku, mendengar lontaran-lontaran tuduhan tanpa berupaya untuk membela diri. Meskipun ada ruang untuk membela, tapi bagai berhadapan dengan peguam agung, yang aku hanya berpeluang mengungkap satu dua kata lalu dipatahkan dengan hujah dan gertakan-gertakan. Aku benar-benar bagai berada dalam kandang itu, dengan semua mata memerhati ke arahku, melihat ketakutanku berada di situ, tanpa ada siapa yang mahu membantu.

Segala ketakutan yang mengerikan bagi pesakit anxiety terpaksa aku telan pada hari itu, pada saat itu. Takut dihina dan diperlekah, terpaksa aku terima. Malah ketakutan terbesar dicaci dimakihamun berhadapan, terpaksa aku telan. Takut diumpat atau dikata belakang, itu juga terpaksa aku depani, apabila digertak akan dihebohkan dicanang pada serata alam... Apalagi ketakutan yang tidak aku terima pada hari itu, semuanya cukup lengkap untuk melumpuhkan aku pada waktu itu juga. Namun, mungkin berkat ketabahan aku untuk berusaha melawan sekian lama, aku mampu menghadapi semua itu pada saat berlakunya. Aku tenang, aku tidak menggeletar, aku tidak panik, semuanya bagaikan aku telah sempurna sembuh.

Tetapi, setelah berlalunya saat menggetirkan itu, aku benar-benar kalah. Aku berharap agar kelemahan dan penyakit itu datang kembali. Biar nanti, orang akan temui aku terbaring lesu di kaki lima atau lorong-lorong gelap, biar nanti orang akan temui aku menggeletar ketakutan di mana-mana stor atau tandas masjid, biar nanti orang akan menghantar aku ke hospital, biar aku terus duduk di wad, tak perlu lagi berhadapan dengan manusia atau siapa sahaja. Aku berharap serangan penyakit itu datang lagi....aku berharap... tetapi.... Akhirnya aku akur, Allah telah memberikan kekuatan padaku, kekuatan yang selama ini selalu aku mohon dariNya. Akhirnya aku menangis kekesalan, aku hamba yang tak bersyukur. Semoga Allah ampunkan aku, dan mulai saat ini, aku akan terus bersyukur dengan kekuatan dan ketabahan yang Allah sempurnakan hari demi hari.

Tetapi, itu kekuatan yang Allah berikan. Dengan kelemahan aku sebelum ini, aku tetap mengharap ada sokongan dari insan yang aku kasihi. Saat aku dibiarkan keseorangan menghadapi kecaman, aku rasa benar-benar dipinggirkan. Aku tidak berharap untuk dibela kerana ia akan lebih merosakkan hati insan yang seorang lagi, tapi aku cuma berharap dia mampu menahan semua itu dari terjadi, dia boleh menghentikannya, tapi harapan aku di saat itu tidak terkabul. Sedih dan malu bercampur-baur. Aku malu, berasa seperti berdiri di kandang salah, dan dia hanya melihat aku di situ. Apa yang kalian rasa kalau kalian dimarah depan orang yang kalian cintai dan kasihi, apa yang kalian rasa kalau kalian diperli-perli atau diperlekeh depan orang yang kalian kagumi dan hormati, apa yang kalian rasa kalau kalian dimalukan di depan kekasih hati kalian???? Malu, malukan... Tapi apa yang lebih kalian rasa, di saat itu dia hanya melihat tanpa mengehntikannya... Sebak. Hanya itu takrif paling tepat.

Tetapi aku tak pernah mampu menyalahkan  dia, kerana situasi dia lebih teruk daripada aku. Aku mendepani ujian sekali-sekala sedang dia barangkali selalu, dan di saat dia menghadapi saat seperti itu pastinya aku juga tak pernah ada untuk membantunya. Maka, pastinya aku juga tidak boleh menyalahkannya. Namun, aku masih berharap, dia datang memberi kekuatan pada aku. Kalau nak dibandingkan perintiwa ini dengan yang sebelumnya, tentulah ini lebih lagi. Dulu aku hanya berdepan dengan mesej, tapi kali berbicara terus, dulu aku tidak direndahkan, aku anggap itu hanya rayuan untuk jangan mengganggu mereka lagi, tapi kali ini adalah kecaman, direndah-rendahkan, beserta ugutan. Apakah aku malaikat untuk tidak berasa apa? Aku sangat terpukul, hanyasanya aku tidak terfikir untuk meninggalkannya kerana tiada rayuan, tetapi adakah itu bermakna peristiwa ini tidak memberi kesan kepada aku?

Aku terus menunggu detik waktu untuk dia hadir menguat dan menenangkan aku. Aku menunggu malam itu kalau mungkin dia keluar ke surau lalu cuba menghubungi aku. Aku tunggu pagi Sabtu itu kalau-kalau dia ke surau solat subuh lalu cuba menghubungi aku, aku tunggu petang itu, malam itu, pagi esoknya hari Ahad, petangnya, malamnya.... Tapi penantian aku sia-sia... Aku menunggu dalam tangisan, dan penantian itu menambahkan lagi tangisan sedia ada.... Kali ini aku tahu, aku tak perlu mengharap apa-apa lagi daripadanya, kalau aku inginkannya, aku yang harus berusaha mendapatkannya, kalau aku yang ingin bersamanya, aku yang perlu tabah mendapatkannya... Setelah Allah berikan kekuatan, aku perlu terus tabah mengharungi sisa saki baki "penyakit ini" sendirian, demi untuk kesembuhan yang sempurna dan berkekalan, kerana ku ingin hidup bahagia, bukan lagi dalam ketakutan dan derita...

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis